Banner

Breaking News

Strategi Bertahan Seorang Ustadz Kampung


Ilustrasi. Sumber: goodnewsfromindonesia.id

Oleh: Aru Elgete


Ramadhan sudah memasuki sepuluh hari kedua. Itu berarti, malam-malam Ramadhan yang penuh rahmat dan kasih sayang telah berganti menjadi malam yang penuh ampunan. Sementara itu, masjid dan musala, mengalami kemajuan.

Maksud saya, jamaahnya kian maju. Hanya tinggal beberapa shaf tersisa. Tarawih menjadi tidak menarik, saat ajakan buka bersama (bukber) sudah seperti suasana lalulintas kota; padat merayap.

Malam tadi, Amat gunakan untuk belajar. Sebab, menurut pernyataan para ulama, Ramadhan merupakan bulan peningkatan daya nalar dan kadar intelektualitas.

Selain itu juga sebagai sarana pendidikan, pembinaan, dan pembersihan. Tentu bertujuan untuk memperhalus rasa, menyeimbangkan logika berpikir, dan menjadikan diri lebih giat dalam bergerak menuju kebaikan. 

Iseng-iseng, Amat membuka rekaman audio di smartphone kesayangannya. Saat itu, malam Nisfu Sya'ban, ia merekam pengajian bersama KH Abdussalam di masjid alun-alun kota.

Pengajian itu membahas kitab Tanqihul Qoul karya Syaikh Nawawi Al-Bantani. Dalam rekaman yang banyak gangguan itu, lamat-lamat Amat mendengar kalimat yang kalau dibahasarabkan berbunyi:

     نوم العالم خير من عبادة الجاهل

Menurut Kiai Aab, demikian sapaan akrab KH Abdussalam, kalimat di atas memiliki arti, "Tidurnya orang berilmu lebih baik daripada ibadahnya orang bodoh."

Terlepas dari sahih atau tidaknya (hadits) kalimat di atas, Amat tidak peduli. Karena dia sadar, tidak pernah menempuh pelajaran tafsir hadits. Boro-boro belajar itu, mondok saja enggan.

Akan tetapi menurut Amat, kalau sebuah hadits relevan dengan perubahan zaman, maka jadikan itu sebagai pelecut semangat untuk terus meningkatkan kadar kualitas diri. Jadi, soal sanad periwayatan hadits itu, Amat tidak perlu bersikap sok tahu. Serahkan saja kepada ahlinya. Seperti ulama sekaliber KH Abdussalam itu.

Rekaman audio masih panjang. Tapi, usai mendengarkan kalimat mutiara itu, beserta maknanya dari Pak Kiai Aab, Amat mematikan rekaman. Amat keluar.

Bersandar di tembok serambi rumahnya. Sesekali ia memandang langit yang dipenuhi bintang. Tak lupa juga, membakar sebatang rokok untuk menemaninya melakukan kontemplasi. Ya, Amat ingin merenung. Hal tersebut dilakukan hampir setiap malam jelang dinihari. 

"Islam adalah agama yang menjunjung tinggi intelektualitas, daya nalar, dan tata logika. Kemudian berperan penting dalam proses memperhalus rasa. Hati, jiwa, logika, dan intelektualitas, harus seiring sejalan. Sama halnya seperti ibadah ritual-formalistik dan ibadah moral-substantif," demikian Amat melakukan proses berpikir yang kemudian ditumpahkan ke dalam status facebook. 

Tersebutlah nama seseorang di dalam benak Amat. Ahmad Suratno, namanya. Orang itu yang sehari-hari, bersama Amat, mengurus musala. Maksudnya, mengurus dalam hal meramaikan. Terlebih di bulan Ramadhan.

Meramaikan musala dengan pemenuhan ibadah akan mendapatkan ganjaran pahala yang dilipatgandakan. Begitu kata orator keagamaan di televisi, radio, dan surat kabar harian.

Ratno, panggilan bagi Ahmad Suratno, sama seperti Amat. Tidak pernah mondok. Ratno hanya lulusan Sekolah Pendidikan Guru Agama (PGA).

Soal hapalan surat, tidak bisa diragukan lagi. Soal ibadah, ia paling rajin. Karena intensitasnya beribadah di musala dan mengajar anak-anak kecil mengaji di rumahnya, kini ia mendapat gelar sosial; Ustadz.

Oleh karena gelar itu, ia semakin percaya diri. Saban hari mengenakan gamis putih dan membentangkan surban di punggung belakang, diikat di leher. Selain itu, sering pula ia menjadi imam salat. Tanpa disuruh atau dipersilakan.

Namun, di sisi lain, Amat tidak suka dengan Ratno. Karena, Ratno ini selalu merasa diri sebagai tokoh agama setempat. Taktiknya, ia kerap memanggil orang lain dengan sebutan ustadz agar orang lain membalas panggilan itu kepadanya.

Praktis Amat berpikir, "Memangnya seberapa bangga sih kalau dipanggil ustadz? Padahal si Ratno itu bacaannya masih amburadul. Ceramahnya juga gak mutu. Kayak ceramah di depan anak-anak kecil," gerutu Amat, sembari menikmati kesejukan malam di teras rumahnya. 

Amat melanjutkan, ustadz itu gelar doktoral. Di Indonesia siapa pun bisa dipanggil ustadz. Termasuk Ahmad Suratno itu. Padahal tajwidnya masih blentang-blentong.

Saban tahun, ceramahnya tidak ada kemajuan. Itu-itu saja. Menandakan bahwa wawasan Ratno tidak bertambah luas. Padahal, sudah mendapat gelar ustadz.

Ia seperti tidak mengikuti perkembangan zaman. Parahnya lagi, Ratno seperti tidak pernah mendaras Al-Quran; karena kesalahan dalam pembacaan masih saja terjadi.

Pernah suatu ketika, dalam forum diskusi pengurus musala, Amat memberanikan diri untuk buka-bukaan. Bagi pemuda yang memiliki cita-cita menjadi abdi rakyat itu, kebenaran harus tersampaikan walau sangat pahit rasanya.

Dengan sangat hati-hati, Amat membuka omongan. Perihal ilmu, baginya, tidak lagi memandang usia. Karena ini menyangkut umat.

"Pak ustadz, punten, saya mau ngasih tau aja. Anu.... Pak Ustadz sering salah bacaannya. Misalnya khouf di surat Al-Quraisy, Pak Ustadz bacanya hauf. Maaf, itu huruf kho, bukan ha."

Ratno tersenyum menahan malu.

Amat melanjutkan, "terus ayat kedua dalam surat Al-Falaq itu bunyinya min syarri maa kholaqo. Tapi saya sering denger Pak Ustadz me-washal jadi begini, 'Qul A'udzubirobbil falaqi, min(g) syarri maa kholaqi, wa min(g) syarri ghoosiqin idzaa waqob'. Jadi, ayat kedua itu harakatnya fathah, bukan kasroh."

"Kemudian di surat Al-adiyyat, tadz. Ayat ketiga itu bunyinya, 'Fal Mughiirooti Subhaa(n)' tapi pak ustadz bacanya, 'Fal Muuughiiirooti Subhaa(n)'. Beda kan, tadz?"

"Satu lagi, tadz," lanjut Amat sembari memandang wajah Ratno yang sudah memerah, seperti ingin marah tapi harus ditahan, hanya senyum menahan malu yang bisa diberikan, "ayat ketiga surat At-Tin itu berbunyi, 'wa haadzal baladil amiin', tapi pak ustadz bacanya, 'wa haadzal balaaadil amiin'. Hati-hati, tadz. Nanti beda arti, lho."

"Iya, terimakasih Amat atas koreksinya. Saya senang sekali. Dengan diadakan forum seperti ini, masing-masing dari kita sama-sama belajar. Jadi tahu kesalahan sendiri-sendiri yang harus segera diperbaiki. Maklum Mat, saya juga masih belajar. Belum ahli banget," terang Ratno dengan nada Jawa yang menjadi ciri khasnya.

Amat manggut-manggut dan berharap agar Ratno segera memperbaiki kesalahannya. 

Selang beberapa hari, Amat masih mendengar bacaan Ratno yang blentang-blentong itu. Bahkan hingga detik ini pun masih sama.

Malam kesebelas kemarin, Ratno menjadi penceramah sekaligus imam salat tarawih. Sejak saat forum itu, Amat me-mufarroqoh-kan diri kalau Ratno yang menjadi imam salat. 

"Bapak-ibu, jamaah musala yang dirahmati Allah. Ijinkanlah kami berdiri di sini (mimbar) dengan niat belajar. Kita saling doa-mendoakan agar kegiatan belajar ini mendapat keberkahan," itu kalimat pembuka dari Ratno setelah mukadimah dibacakan. 

"Kalau masih belajar jangan (sok) jadi ustadz. Belajar dulu aja, baru tampil di depan umat. Gak perlu pakai strategi bertahan begitu. Ya Allah, hidup di perkotaan kok begini banget, ya," Amat membatin dan seketika tersadar, waktu sahur telah tiba.

Ia masuk, membangunkan seluruh anggota keluarganya untuk bersama-sama makan sahur. 

Sembari menyaksikan acara Tafsir Al-Misbah Prof Quraish Shihab, Amat kembali melakukan kontemplasi. 

"Hadits yang disampaikan Pak Kiai Aab beberapa waktu yang lalu itu menyiratkan bahwa seorang muslim jangan sampai hanya menitikberatkan hidupnya pada persoalan ibadah saja, sehingga lupa kalau dirinya juga wajib meningkatkan kecerdasan intelektual. Supaya tidak ketinggalan zaman. Apalagi jadi bahan tertawaan. Karena tidurnya orang berilmu lebih baik, daripada ibadahnya orang bodoh."


Ratnoooo.... Ratnoooo....


Wallahu A'lam.


*Penulis adalah Pemimpin Redaksi Media NU Kota Bekasi, dan Kontributor NU Online

Tidak ada komentar