Banner

Breaking News

Islam adalah Metabolisme Kehidupan


Sumber gambar: fimadani.com


Oleh: Aru Elgete 

Saya masih ingat tema Kenduri Cinta pada 20 Januari 2017 lalu, di Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta Pusat. Yaitu 'Keledai Lestari'.

Tema itu diangkat sebagai gambaran yang tepat bagi kehidupan bangsa Indonesia. Dalam hal memilih pemimpin misalnya, kita berkali-kali tertipu dengan janji-jani politik yang diberikan.

Apa pasal? Salah seorang Jamaah Maiyah pada forum Kenduri Cinta ketika itu mengatakan, hal tersebut karena sistem demokrasi yang mengaburkan atau membuyarkan pandangan. 

Sehingga kita tidak bisa membedakan, misalnya, mana berlian dan mana akik. Semua kelihatan bagus. Namun ternyata, sama saja seperti yang sudah-sudah.

Kita harus akui bahwa cara pandang sebagian besar bangsa Indonesia masih praktis, cenderung tidak kritis.

Jarak pandang pun demikian, kita tak bisa menjaga jarak dengan objek. Terlalu jauh atau bahkan sangat dekat.

Sudut pandang yang digunakan, terlalu sempit. Sehingga berdampak pada kekakuan dalam proses berpikir.

Sementara resolusi pandang yang selama ini kita kelola, kemungkinan kurang jernih dan membuat kita kehilangan kendali atas kedaulatan diri. 

Keempat itu; cara, jarak, sudut, dan resolusi pandang menjadikan kita seperti keledai yang terjerembab dalam lubang yang sama berkali-kali; yang itu-itu saja. Bahkan, besar kemungkinan, martabat dan derajat manusia lebih rendah dari keledai.

Namun, marilah kita berpikir beda. Betul, bahwa keledai adalah hewan. Ia terlepas dari kungkungan salah-benar, terpuji-tercela, baik-buruk, dan jahat-derma. Karena antara hewan dan manusia memiliki titik perbedaan yang sangat mendasar, yakni akal dan nurani.

Harimau misalnya, memangsa adalah jalan satu-satunya untuk bisa bertahan hidup. Apakah dengan begitu, kita lantas mengatakan bahwa harimau merupakan hewan yang jahat? Padahal memang harimau ditakdirkan sebagai hewan karnivora yang tak suka dengan tetumbuhan.


Atau, bisakah kita nilai kambing sebagai hewan yang jahat karena untuk bertahan hidup, ia harus merusak tanaman karena kambing tak suka memakan daging?

Nah, kembali ke keledai. Kita bisa saja mencontoh keledai yang berkali-kali terperosok ke dalam lubang yang sama. Keterperosokan itu dapat diartikan sebagai sebuah konsistensi untuk mencapai keberhasilan.

Contoh, dalam hal kekaryaan, keilmuan, dan keterampilan, seorang manusia tidak bisa serta-merta menjadi ahli tanpa melewati proses. Maka, kita sangat perlu untuk melakukan pengulangan hingga ke puncak keberhasilan.

Saya teringat ketika sedang belajar membaca huruf hijaiyah dengan metode turutan, kalau bacaan saya banyak keliru, maka harus mengulanginya esok hari. Begitu terus, hingga bisa. Artinya, terjerembab ke lubang yang sama perlu dilakukan sebagai proses menuju kebaikan.

Kemudian, saya lantas berpikir tentang persoalan umat Islam di Indonesia. Kita selalu dihadapkan dengan persoalan yang itu-itu saja. Bahkan yang cenderung menimbulkan keresahan dan keterpecahan bangsa.

Entah terperosok ke dalam lubang yang sama, yang diartikan sebagai perbuatan negatif atau konsistensi perbuatan yang mengarah ke dalam hal yang positif.

Pemaknaan demikian tergantung dari cara, jarak, sudut, dan resolusi pandang yang kita gunakan. Semua orang berpegang pada kebenaran sendiri-sendiri dan kelompoknya masing-masing. Tak jarang, Tuhan dan teks suci pun dibawa untuk melegalkan perbuatannya.

Saya jadi teringat, Kiai Muhammad Ainun Najib atau Cak Nun pernah mengatakan bahwa kebenaran ada 3 macam.

Pertama, kebenaran diri sendiri yang belum tentu benar menurut orang lain, dan sebaliknya. Kedua, kebenaran umum hasil kesepakatan bersama. Seperti bahasa, kebudayaan, atau pandangan politik dalam dunia demokrasi.

Ketiga, kebenaran sejati yang hanya akan ditemukan saat proses pengembaraan kita sudah menemukan titik puncak. Yakni, manakala kita sudah hidup kekal di akhirat.

Sebab, kebenaran sejati hanya milik Tuhan tanpa terjemahan atau interpretasi manusia. Karena sejauh apa pun kita menerjemahkan maksud Tuhan, tidak akan pernah sama dengan kebenaran yang dimaksud oleh Tuhan itu sendiri, 

Maka, Cak Nun pun seketika itu menyatakan bahwa Islam bukan organisasi, tetapi metabolisme kehidupan. Islam tidak sebatas pada FPI, NU, Muhammadiyah, atau LDII sekalipun.

Karena sesungguhnya organisasi atau kelompok keagamaan hanya serupa jalan menuju kebenaran sejati. Bukanlah kebenaran itu sendiri. Menurut NU, betul, NU sebagai jalan menuju kebenaran yang paling baik. Begitu pula dengan yang lainnya.

Islam merupakan metabolisme kehidupan. Tidak hanya terpaku pada syahadat, salat, zakat, puasa, dan haji. Sebab rukun Islam hanya merupakan bentuk administratif, tidak lebih.

Islam adalah perbuatan yang menjurus pada keselamatan, yang membebaskan siapa dan apa dari cengkraman keburukan menuju kehidupan yang lebih estetik dan dialektik.

Hemat saya, ketika ada seorang yang tidak suka atau bahkan anti kepada salah satu organisasi keislaman, maka bukan berarti tidak suka atau anti kepada Islam secara keseluruhan.

Islam lebih luas dari sekadar FPI, HTI, NU, Muhammadiyah, atau LDII. Islam sudah ada sejak manusia pertama diciptakan. Islam adalah perilaku, bukan institusi yang membuat agama suci itu menjadi kecil karena tersekat oleh kepentingan organisasi.

Kebenaran yang dibawa oleh masing-masing organisasi keislaman itu bukan kebenaran sejati, hanya sebatas pada kebenaran umum yang disepakati bersama.

Dalam hal mencari kebenaran, Cak Nun mengatakan agar umat Islam senantiasa menadabburi kandungan Al-Quran. Meresapi dan menghayati pesan yang terdapat di dalamnya. 

Tadabbur berbeda dengan tafsir. Output dari tadabbur adalah kebaikan, tawadhu, rendah hati, merasa kecil di hadapan Tuhan.

Dengan begitu, siapa pun yang berhasil menadabburi Al-Quran tidak akan menyakiti sesama, menebar kebencian, apalagi melakukan ancaman pembunuhan. 

Innaddina 'indallahil Islam. Menurut tafsir Kementerian Agama RI berarti, agama yang paling benar di sisi Allah hanyalah Islam. Sementara hasil penadabburan Cak Nun atas ayat itu berbeda, yakni perbuatan yang paling mulia di sisi Allah adalah memberi keselamatan kepada sesama.

Sekali lagi, output dari tadabbur adalah kebaikan, sikap tawadhu, rendah hati, dan merasa kecil di hadapan Tuhan.

Tadabbur tidak membutuhkan metode khusus untuk bisa memberi makna pada teks. Siapa pun bisa melakukan tadabbur terhadap firman Tuhan, karena kitab suci diperuntukkan bagi seluruh manusia.

Fungsi kitab suci untuk menjadi pedoman agar hidup menjadi baik, menjadi berguna, menjadi manfaat bagi keberlangsungan kehidupan dan peradaban. 


Wallahu A'lam


*Penulis adalah Pengelola Media NU Kota Bekasi

Tidak ada komentar