Banner

Breaking News

KH Sa'id Aqil Siroj, Sosok Teladan Warga NU


Sumber gambar: NU Online

Oleh: Redaksi Media NU Kota Bekasi

Pada 3 Juli 2018 merupakan hari berbahagia bagi orang pertama Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Sa'id Aqil Siroj. Ia lahir di Cirebon, Jawa Barat pada tahun 1953. Sejak tahun 2010 hingga sekarang, ia menjabat sebagai Ketua Umum PBNU.

Sosok yang memiliki kesukaan membaca, silaturahim, dan ibadah ini memilik istri bernama Nur Hayati Abdul Qodir. Ia dikaruniai empat orang anak. Yakni Muhammad Sa'id Aqil, Nisrin Sa'id Aqil, Rihab Sa'id Aqil, dan Aqil Sa'id Aqil.

Pendidikan pertama kali yang ia tempuh adalah di Madrasatul Tarbiyatul Mubtadi'in Kempek Cirebon. Pada tahun 1965, ia melanjutkan pengembaraan ilmunya di Hidayatul Mubtadi'in Pesantren Lirboyo, Kediri, hingga tahun 1970. Kemudian di Pesantren Al-Munawwir, Krapyak, Yogyakarta, pada 1972 hingga 1975.

Setelah itu, ia menempuh pendidikan strata pertama di Universitas King Abdul Aziz jurusan Ushuluddin dan Dakwah, lulus pada tahun 1982. Jurusan Perbandingan Agama Universitas Umm Al-Qura menjadi labuhan pencarian ilmu pengetahuannya, dan lulus pada 1987. Tahun 1994, Kiai Sa'id menyelesaikan studi doktoral di kampus yang sama dengan jurusan Aqidah Filsafat Islam.

Sosok yang teduh dan menyejukkan ini juga merupakan seorang organisatoris. Saat mondok di Al-Munawwir, ia menjadi Sekretaris Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Rayon Krapyak Yogyakarta periode 1972-1974. Ketika kuliah di Mekkah, ia menjadi Ketua Keluarga Mahasiswa NU (KMNU) periode 1983-1987.

Sepulangnya dari Timur Tengah, Kiai Sa'id dipercaya memegang amanah jabatan sebagai Wakil Katib 'Aam PBNU pada 1994 hingga 1998. Kemudian selanjutnya, ia juga dipercaya menduduki jabatan sebagai Katib 'Aam PBNU periode 1998-1999. Sembari itu, ia juga menjadi Penasehat Gerakan Anti Diskriminasi Indonesia (Gandi) di tahun 1998.

Bukan hanya itu, ia juga menjabat sebagai Ketua Forum Komunikasi Kesatuan Bangsa (FKKB) dan Penasehat Pusat Kajian Timur Tengah dan Islam Universitas Indonesia, sejak 1998 hingga kini. Pernah juga, pada tahun 1998, ia menjadi Wakil Ketua Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) Kerusuhan Mei 1998. Di tahun yang sama, ia menjadi Ketua TGPF Kasus Pembantaian Dukun Santet Banyuwangi.

Orang yang meyakini perbedaan sebagai wujud keniscayaan dari Allah ini menjadi Penasehat Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) sejak 1999 hingga sekarang. Selain itu, ia menjadi Anggota Kehornatan Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia (MATAKIN) pada periode 1999-2002.

Di periode 1999-2004, ia menjadi Rois Syuriah PBNU. Setelahnya, di tahun 2004 hingga 2010, Kiai Sa'id menjadi Ketua PBNU. Kini, sejak 2010, ia didapuk sebagai Ketua Umum PBNU. 

Kegiatan-kegiatan profesional pun pernah pula ditempuhnya. Yakni Tim Ahli Bahasa Indonesia dalam Surat Kabar Harian An-Nadwah, Mekkah, pada tahun 1991. Pada periode 1995-1997, Kiai Sa'id menjadi Dosen di Institut Pendidikan Tinggi Ilmu Al-Qur'an (PTIQ). Pernah juga ia menjadi Dosen Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta pada tahun 1995 hingga sekarang.

Wakil Direktur Universitas Islam Malang (Unisma) ditempuhnya pada tahun 1997-1999. Pada 1998, di Universitas Surabaya (Ubaya), ia menjadi Penasihat di salah satu fakultas yang ada. Ia juga pernah menjabat sebagai Wakil Ketua Tim Penyusun Rancangan AD/ART Partai Kebangkitan Bangsa pada 1998.

Saat NU menjadi partai, Kiai Sa'id menjadi Anggota Fraksi di Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR-RI) pada periode 1999-2004. Sembari itu, di tahun 1999, ia menjadi Dosen Luar Biasa di Institut Islam Tribakti Lirboyo, Kediri. 

Sejak 2001 hingga sekarang, Kiai Sa'id menjadi Penasehat Masyarakat Pariwisata Indonesia (MPI). Kemudian menjadi Dosen Pascasarjana Sekolah Tinggi Ibrahim Maqdum Tuban, Universitas NU di Solo, dan Universitas Islam Malang (Unisma), pada 2003 hingga kini.  

Dari seluruh pendidikan dan pengalamannya itulah, kita berharap semoga menjadi inspirasi dan motivasi agar kita senantiasa menempuh hal-hal kebaikan dalam kehidupan sehari-hari. Sebab, Kiai Sa'id itulah, sebenar-benarnya teladan bagi kita semua, terutama bagi warga dan kader NU se-Indonesia.


Sumber: NU Online

Tidak ada komentar